Bubur Kacang Hijau Bertahan Sejak Pra Pandemi
- by Nur Imtihanna
- Editor Mahadevi Pramitha
- 21 Jan 2026
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Usaha bubur kacang hijau dan ketan hitam milik Slamet di kawasan Nologaten, Sleman telah berjalan sejak 2018. Usaha ini berdiri sebelum pandemi COVID-19 dan hingga kini masih bertahan di tengah naik turunnya harga bahan pokok. Lapak sederhana di pinggir jalan itu menjadi salah satu tujuan warga sekitar untuk menikmati bubur hangat dengan harga terjangkau.
Slamet menuturkan, sebelum berjualan bubur kacang hijau, dirinya lebih dulu menjajakan es buah sejak 2012. Namun, faktor cuaca menjadi alasan utama perubahan menu dagangannya. “Dulu saya jualan es buah, tapi kalau musim hujan pembeli menurun, akhirnya saya ambil inisiatif jualan bubur kacang hijau,” ujarnya.

Bubur kacang hijau dan ketan hitam produksi Slamet (Foto: RRI/Aan)
Dalam operasional harian, Slamet menjual bubur kacang hijau pada pagi hari dan es buah pada siang hari. Selain bubur kacang hijau, ia juga menyediakan bubur ketan hitam yang kerap dipesan secara campur. “Kebanyakan pembeli pesan campur, separuh kacang hijau dan separuh ketan hitam,” katanya.
Setiap hari, Slamet menghabiskan sekitar 2,5 kilogram kacang hijau dan 1,5 kilogram ketan hitam sebagai bahan baku. Meski harga kacang hijau terus mengalami kenaikan hingga mencapai Rp31.000 per kilogram, ia tetap berupaya menjaga harga jual agar terjangkau. “Dari 2018 sampai 2024 masih Rp5.000, baru naik jadi Rp6.000 karena semua bahan naik,” ucapnya.
Menurut Slamet, tantangan utama usahanya adalah jumlah pembeli yang fluktuatif karena berjualan di pinggir jalan. Meski demikian, ia mengaku kondisi penjualan sejauh ini masih cukup stabil. “Tantangan utamanya pembeli ada atau tidak, tapi alhamdulillah sampai sekarang masih bagus,” ujarnya.

Slamet berjualan bubur kacang hijau dan ketan hitam (Foto: RRI/Aan)
Dari sisi kualitas, Slamet menegaskan dirinya selalu menjaga rasa dan bahan baku. Ia merendam kacang hijau minimal delapan jam agar mengembang sempurna dan menghasilkan tekstur yang lembut. “Dari dulu sampai sekarang rasanya tidak pernah berubah, orang bilang tidak ‘malik’, masih sama,” katanya.
Salah satu pelanggan Imanuel, mengaku rutin membeli bubur kacang hijau di tempat tersebut karena rasa dan harganya yang konsisten. “Bubur kacang hijaunya enak, harganya juga murah cuma Rp6.000, rasanya nggak pernah berubah dari awal saya langganan, bapaknya juga ramah,” ujarnya. Lapak bubur ini berlokasi di Jalan Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, tepat berhadapan dengan sebuah kafe, dan hingga kini tetap menjadi pilihan warga dari berbagai kalangan. (Hariansyah)