Budaya Figura di Sulut

RRI.CO.ID, Talaud - Pemerhati budaya Roy Kumaat mengatakan bahwa budaya figura merupakan hasil interaksi dari budaya bangsa penjajah yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal. Hal itu disampaikannya saat berbincang bersama Pro 4 RRI Manado dalam acara siaran 'Magota Bacarita' yang disiarkan secara berjaringan di Pro 4 RRI Gorontalo, Pro 1 RRI Tahuna, dan Pro 1 RRI Talaud, dengan topik “Budaya Figura”.

Roy menjelaskan figura berarti memerankan tokoh atau karakter tertentu. Menurutnya kemunculan budaya figura terjadi karena adanya kesamaan nilai dan prinsip antara budaya luar dan budaya lokal sehingga mudah diterima dan berkembang di masyarakat. Saat ini budaya figura telah menjadi bagian dari ekspresi budaya yang cukup populer.

Ia mencontohkan, di Kota Manado hampir setiap tahun digelar festival budaya yang menampilkan pertandingan antar kelurahan dengan berbagai peran figura seperti tokoh presiden, pahlawan nasional, seniman, hingga profesi tertentu. Bahkan anak-anak sekolah pun kerap mengenakan atribut profesi seperti tentara, polisi, dan dokter dalam kegiatan tersebut.

Di wilayah Minahasa, budaya serupa juga dikenal dengan istilah “Makantar” yaitu kegiatan menyanyi sambil pergi dan datang ke rumah-rumah. Setiap orang yang memerankan figur tertentu kata Roy, biasanya memiliki angan-angan atau cita-cita yang berkaitan dengan peran yang dimainkannya. Misalnya seseorang yang memerankan tokoh presiden memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin begitu pula anak-anak yang mengenakan seragam polisi atau tentara.

Namun demikian Roy Kumaat menyoroti adanya tantangan dalam budaya figura khususnya ketika laki-laki mengenakan pakaian perempuan dan dianggap sebagai waria. Ia mengajak masyarakat untuk melihat hal tersebut secara positif terlebih dahulu, dengan memahami bahwa dalam konteks budaya figura hal itu merupakan bagian dari peran atau karakter yang sedang dimainkan bukan semata-mata persoalan identitas pribadi.


Rekomendasi Berita