Osmoinc Proses Telur Asin Lebih Cepat

KBRN, Surakarta: Tradisi pembuatan telur asin yang biasanya memerlukan waktu hingga dua minggu kini mengalami perubahan drastis berkat mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mahasiswa ITS telah mengembangkan sebuah perangkat inovatif yang bernama Osmoinc (Pengendalian Osmotik dan Inframerah Dekat), yang menggunakan prinsip osmosis untuk mempercepat proses pembuatan telur asin.


Menurut informasi yang diperoleh dari @Good News From Indonesia, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) di ITS menciptakan alat Osmotic Manipulation and Near Infrared Controlled (Osmoinc) untuk mempercepat dan menstandardisasi produksi telur asin. Dengan alat ini, waktu produksi yang biasanya antara 10 hingga 14 hari dapat dipangkas menjadi hanya lima jam.


Inovasi ini lahir dari keinginan untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang pangan agar dapat meningkatkan efisiensi dalam proses produksi. Selain itu, juga bertujuan untuk menjaga kualitas telur asin agar lebih higienis dan konsisten.


"Kami juga memastikan bahwa telur akan lebih tahan lama. Metode lama sering kali memungkinkan pertumbuhan mikroba, sedangkan penggunaan Osmoinc justru menghambat perkembangan kuman sehingga umur simpan telur menjadi lebih panjang," kata Achmad Mahendra, yang merupakan Ketua Tim PKM-KI ITS.


Alat ini menjadi solusi atas masalah yang dihadapi UMKM yang saat ini menggunakan metode konvensional, yang membutuhkan waktu 10–14 hari, kurang higienis, dan sulit untuk memenuhi permintaan pasar. Dengan manipulasi tekanan osmosis menggunakan sensor Near Infrared (NIR), Osmoinc dapat memproduksi telur asin dengan rasa dan tingkat kemasaran yang lebih seragam hanya dalam waktu sekitar lima jam.


Osmoinc dari ITS beroperasi dengan cara memanipulasi tekanan osmosis yang diperkuat oleh sensor Near Infrared (NIR). Alat ini mengandalkan perbedaan kadar garam yang ekstrim antara bagian luar dan dalam telur.


Alih-alih mengubur telur dalam tanah, perangkat ini menggunakan larutan garam yang dikontrol dengan sangat presisi. Sensor NIR bertindak sebagai pemindai kualitas yang tidak merusak telur (non-destructive). Radiasi inframerah ini mengukur tingkat kemasaran dan konsentrasi garam dari setiap butir telur.


Sebagai hasilnya, setiap telur yang dihasilkan dari mesin ini memiliki standar rasa yang konsisten. Sebuah pencapaian yang sulit diraih dengan metode manual.

(Syurie Ariandani)

Rekomendasi Berita