Pedagang Shelter Manahan Minta Disdag Evaluasi Ruko Tutup

KBRN, Surakarta: Sejumlah pedagang di shelter Manahan Kota Surakarta mengeluhkan banyaknya lapak yang tutup dan tidak beroperasi, namun tidak bisa ditempati oleh pedagang lain.

Kondisi tersebut dinilai berdampak pada sepinya aktivitas jual beli, khususnya bagi pedagang yang berjualan pada sore hingga malam hari.

Salah seorang pedagang shelter Manahan, Aryo, menyebut banyak lapak dalam kondisi tutup, namun statusnya masih tercatat sebagai lapak aktif sehingga tidak dapat digunakan pedagang lain yang ingin berjualan.

“Banyak lapak yang tutup, tapi tidak bisa ditempati orang lain. Jadinya kelihatan sepi, dan pembeli juga jadi jarang datang,” ujar Aryo saat ditemui rri.co.id di lokasi shelter pada Selasa (5/1/2026).

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya yang menilai kondisi shelter kurang hidup karena tidak semua lapak beroperasi.

Para pedagang shelter Manahan berharap lapak yang sudah lama tutup dapat dievaluasi agar bisa dimanfaatkan oleh pedagang lain yang siap berjualan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Arif Handoko, mengatakan pihaknya akan melakukan pendataan ulang terhadap lapak-lapak yang tidak aktif.

Menurut Arif Handoko juga, pengelolaan shelter Manahan perlu dievaluasi agar pemanfaatan lapak lebih optimal dan kurang memberikan dampak positif bagi pedagang maupun masyarakat.

“Kalau memang ada pedagang yang sudah lama tidak beroperasi, tentu akan kami evaluasi. Prinsipnya, kami ingin shelter ini hidup dan dimanfaatkan oleh pedagang yang benar-benar siap berjualan,” kata Arif Handoko.

Ditambahkan Arif Handoko, Dinas Perdagangan membuka ruang dialog dengan para pedagang untuk membahas pengaturan jam operasional maupun pemanfaatan lapak kosong.

Pemerintah Kota Surakarta, lanjutnya, berkomitmen menjaga fungsi shelter Manahan sebagai ruang usaha yang adil dan produktif bagi para pedagang. (JK/Diqi)

Rekomendasi Berita