Tarsius Bangka dalam Ancaman, Populasi Kian Menurun
- by Rima Janita
- Editor Lalang Gumilang
- 14 Jan 2026
- Sungailiat
KBRN, Sungailiat : Tarsius bancanus atau mentilin, primata nokturnal endemik Pulau Bangka, terus mengalami penurunan populasi akibat rusaknya habitat alami dan minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi satwa liar.
Kondisi ini menempatkan tarsius Bangka sebagai salah satu fauna endemik yang terancam keberlangsungannya di alam.
Sebagai primata kecil yang aktif pada malam hari, tarsius Bangka memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama sebagai pengendali populasi serangga. Namun, alih fungsi lahan, aktivitas pertambangan, serta pembukaan hutan untuk perkebunan menyebabkan ruang hidup satwa ini semakin menyempit.
Wildlife specialist, Andre Z, menjelaskan bahwa tarsius Bangka sangat bergantung pada ekosistem hutan yang sehat. Ketika hutan terfragmentasi, tarsius kehilangan tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak.
“Penurunan tutupan hutan berdampak langsung pada populasi tarsius Bangka. Satwa ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan tidak mudah beradaptasi dengan habitat yang terganggu,” ujar Andre saat menjadi narasumber di acara sore ceria, Selasa, (13/1/2026).
Selain ancaman kerusakan habitat, gangguan manusia seperti perburuan liar dan pengambilan satwa untuk dipelihara juga turut mempercepat penurunan populasi. Padahal, tarsius merupakan satwa dilindungi yang seharusnya hidup bebas di alam.
Peneliti dari Tarsius Research and Education, Frista Charunnisa menegaskan bahwa kondisi tarsius Bangka saat ini sudah berada pada level mengkhawatirkan.
"Bahkan IUCN (International Union for Conservation of Nature) telah menetapkan status mentilin dari Pulau Bangka sebagai endangered atau terancam bahaya. Artinya, spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar,” kata Frista.
Menurut Frista, penetapan status tersebut harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha. Upaya konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga pada pelestarian habitatnya secara berkelanjutan.