Terdampak Rob, Desa Bedono Jadi Laboratorium Hidup Undip
- by Bahtiar
- Editor Marnisa Nurdian Saritri
- 17 Jan 2026
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) menjadikan Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, sebagai laboratorium hidup (living lab) untuk mengkaji dan mengembangkan solusi berbasis ekosistem di wilayah pesisir. Inisiatif ini dilakukan sebagai respons atas dampak banjir rob dan abrasi yang terus menggerus kawasan pesisir utara Jawa.
Menurut Prof. Tri Retnaningsih, Desa Bedono memberikan pembelajaran penting bahwa mitigasi dan adaptasi perubahan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari peran serta masyarakat. “Pendekatan kolaboratif membuka ruang dialog antara akademisi, komunitas lokal, dan pemerintah untuk merumuskan langkah adaptasi pesisir secara berkelanjutan,” katanya melalui rilis pers, Sabtu, 17 Januari 2026.
Melalui pengembangan laboratorium hidup ini, Fakultas Sains dan Matematika FSM UNDIP berharap Desa Bedono dapat menjadi contoh pembelajaran bagi wilayah pesisir lain. Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan dan keberlanjutan kawasan pesisir Pantura.
Selama dua dekade terakhir, Desa Bedono mengalami perubahan lingkungan yang signifikan akibat rob dan abrasi. Kondisi tersebut merendam rumah warga, fasilitas umum, hingga memaksa relokasi penduduk.
Tercatat sebanyak 268 kepala keluarga telah direlokasi sejak 1999 hingga 2007. Hal ini menyisakan sebagian kecil warga yang masih bertahan.
Salah satu keluarga yang tetap tinggal berada di Dusun Tambaksari, yakni Pasijah atau Mak Jah. Bersama keluarganya, ia bertahan di rumah terakhir yang masih dihuni, meski hampir setiap hari terdampak air pasang yang langsung menghantam kawasan tempat tinggalnya.

Dalam upaya beradaptasi, Mak Jah menanam mangrove di sekitar rumah sebagai pelindung alami. Mangrove tersebut berfungsi menahan gelombang dan memperlambat abrasi, sekaligus menjaga ekosistem pesisir dengan menjadi habitat berbagai biota laut.
Kisah ketangguhan warga inilah yang kemudian menguatkan peran Desa Bedono sebagai laboratorium hidup. Sejak 2022, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UNDIP melalui
Cluster for Paleolimnology (CPalim) menjadikan Bedono sebagai living lab untuk mengembangkan Nature-Based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam.Program ini dipimpin Guru Besar FSM UNDIP sekaligus Founder CPalim, Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc. Melalui pendekatan
living lab, Desa Bedono menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.