Langkah Menyucikan Diri jelang Ramadan
- 14 Feb 2026 08:55 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk melakukan persiapan lahir dan batin. Persiapan tersebut tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga berupa upaya menyucikan jiwa agar ibadah puasa semakin berkualitas.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, “Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun.” Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Kepada RRI, Ustaz H. Muhammad Alwan mengatakan, ayat tersebut secara tegas ditujukan kepada orang-orang beriman, bukan sekadar kepada orang-orang Islam. “Allah mengetahui bahwa yang mampu melaksanakan puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan hanyalah orang-orang yang benar-benar beriman,” katanya.
Perbedaan antara iman dan Islam juga dijelaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 14, ketika Allah menegaskan bahwa pengakuan lisan belum tentu mencerminkan iman yang menghujam dalam hati. “Dalam ayat itu disebutkan bahwa iman belum masuk ke dalam hati mereka, tetapi Allah tetap membuka pintu ampunan dan rahmat bagi siapa saja yang taat kepada-Nya, “ucap Ustaz HM. Alwan.
Oleh karena itu, langkah pertama dalam menyucikan diri adalah meningkatkan kualitas keimanan hingga tumbuh rasa cinta kepada Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 165, “Walladzina amanu asyaddu hubban lillah,” yang berarti orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.
Langkah kedua adalah meluruskan niat bahwa puasa merupakan bentuk pengabdian dan pengorbanan kepada Allah Swt. Dalam Surah Ali Imran ayat 92 disebutkan, “Lan tanalul birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun,” yang artinya seseorang tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum menginfakkan sebagian harta yang dicintainya.
Puasa juga mengajarkan pengorbanan dalam bentuk menahan diri dari sesuatu yang halal, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri sejak fajar hingga terbenam matahari. “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan pengendalian diri sebagai wujud cinta kepada Allah,” ujar Ustaz HM. Alwan.
Selain itu, umat Islam perlu memahami fikih puasa agar ibadah tidak sia-sia. Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga karena tidak menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat.
Dalam pelaksanaannya, puasa memiliki ketentuan mengenai siapa yang wajib, boleh tidak berpuasa, dan tidak boleh berpuasa. Orang yang sakit, musafir, atau lansia diperbolehkan tidak berpuasa dengan kewajiban mengganti di luar Ramadan, sedangkan perempuan yang haid dan nifas tidak boleh berpuasa dan wajib mengqadanya setelah suci.
Langkah berikutnya adalah memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, dan menghidupkan ibadah sunah seperti salat tarawih, tahajud, dan duha. Dengan menyucikan jiwa, meluruskan niat, serta meningkatkan amal saleh, diharapkan umat Islam dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan meraih derajat takwa sebagaimana tujuan puasa yang telah Allah tetapkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....