Menelusuri Asal Muasal Kerajaan Luwu
- by Ira Runinta
- Editor Ridzki Multianatha
- 16 Jan 2026
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kerajaan Luwu merupakan salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting dalam sejarah dan peradaban Bugis. Namun, di balik pengaruh besarnya, tidak banyak masyarakat yang benar-benar memahami asal muasal nama Luwu serta perjalanan panjang kerajaan ini sejak masa awal berdirinya.
Melalui Program Pesona Antar Komunitas Bugis, Indo Siti mengajak pendengar menelusuri kembali jejak sejarah Kedatuan Luwu, dari tradisi lisan hingga catatan tertulis para sejarawan.
Indo Siti mengungkapkan bahwa Kerajaan Luwu kerap disebut sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, bahkan lebih tua dibandingkan Bone, Gowa, dan Soppeng. "Sejumlah sejarawan membagi sejarah Luwu ke dalam dua periode besar, yakni periode pra-Lontara dan periode Lontara," katanya.
Pada periode pra-Lontara, sejarah Luwu masih bersifat tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini dikenal dalam epos “I La Galigo”, yang oleh sebagian sejarawan disebut sebagai pseudo-histori atau sejarah semu karena belum terdokumentasi secara tertulis. Baru pada tahun 1852, kisah-kisah tersebut mulai dibukukan.
Menurut catatan sejarah, Luwu telah dikenal sebagai sebuah kedatuan sejak abad ke-13, saat raja-raja pertama dari periode Lontara mulai dinobatkan. Hal ini memperkuat posisi Luwu sebagai pusat awal peradaban Bugis di Sulawesi Selatan.
Asal nama Luwu diyakini berasal dari kosakata maluca dan malutu yang bermakna keruh atau gelap. Makna ini menggambarkan kondisi alam Luwu yang didominasi wilayah pesisir, sungai, dan hutan belantara. Pendapat lain menyebutkan bahwa Luwu berarti wilayah dataran rendah atau pinggir laut, sesuai dengan letak pusat pemerintahan Kedatuan Luwu.
Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Luwu membentang luas hampir di sepanjang pesisir Pulau Sulawesi. Kedekatan dengan laut menjadikan masyarakat Luwu dikenal sebagai pelaut dan pedagang, dengan sagu sebagai makanan pokok yang hingga kini masih lestari dalam kuliner khas seperti kapurung.
Indo Siti menegaskan bahwa sejarah Kerajaan Luwu bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi warisan budaya yang masih hidup dalam tradisi, bahasa, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis. Menelusuri asal muasal Luwu berarti memahami akar peradaban Bugis dan peran besarnya dalam sejarah Sulawesi Selatan.