AI Bukan Ancaman, Kreator Harus Adaptif

  • by
  • Editor Joko Nurcahyo
  • 16 Jan 2026
  • Palu

RRI.CO.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau

Artificial Intelligence (AI) dinilai bukan menjadi ancaman bagi pelaku industri kreatif, khususnya videografer dan content creator, selama mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hal tersebut disampaikan Founder Radjata Studio, Adhiet, saat menjadi narasumber dalam Program Sore Ceria di RRI Pro 2 Palu, Rabu (14/1/2026).

Adhiet mengatakan, pertanyaan mengenai ancaman AI terhadap profesi kreatif saat ini memang banyak muncul, seiring pesatnya perkembangan teknologi yang mampu memproduksi berbagai konten secara instan.

“Kalau ditanya AI itu mengancam atau tidak, jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tergantung bagaimana kita menyikapinya,” ujar Adhiet.

Menurutnya, AI justru dapat menjadi alat bantu yang mendampingi pekerjaan kreator, bukan menggantikan sepenuhnya peran manusia. Ia menilai, meskipun AI menawarkan kemudahan hanya dengan beberapa kali klik, tetap dibutuhkan pemahaman dasar dan pengalaman di bidang videografi agar hasilnya maksimal.

“Orang awam mungkin akan kesulitan. Walaupun dibilang tinggal klik atau pakai

prompt, tetap butuh pemahaman. Di balik AI itu pasti ada orang yang punya basic videografi,” jelasnya.

Adhiet menambahkan, pelaku kreatif yang sudah lebih dulu terjun ke dunia videografi seharusnya tidak merasa tersaingi, melainkan justru dituntut untuk terus beradaptasi agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.

“Yang penting itu adaptasi. Supaya ke depan kita tidak tergeser. Videografer yang update pasti tetap terpakai,” katanya.

Ia juga mencontohkan, dalam proses pembuatan video berbasis AI, hasil yang diperoleh masih memerlukan penyuntingan lanjutan. Mulai dari penyambungan adegan hingga penyesuaian durasi, yang tetap membutuhkan sentuhan manusia.

Terkait pemanfaatan AI di Radjata Studio, Adhiet mengakui pihaknya telah menggunakan teknologi tersebut sebagai alat bantu, terutama untuk mempercepat proses kerja, seperti pengolahan foto atau penyuntingan awal video.

“Kalau dulu editing bisa satu jam, sekarang bisa jauh lebih cepat. Selama itu memudahkan dan meringankan pekerjaan, kenapa tidak dipakai,” ujarnya.

Meski demikian, Adhiet menegaskan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan, terutama dalam menghadirkan rasa dan emosi dalam sebuah karya visual.

“Secanggih apa pun AI, sentuhan manusia itu tidak bisa dikalahkan.

Feel-nya beda dan itu pasti kelihatan, terutama bagi videografer,” tegasnya.

Rekomendasi Berita