Netflix dan Ancaman 17 Hari Bioskop
- by Jihan Nabila Umar
- Editor Ariany Kalangi
- 15 Jan 2026
- Manado
KBRN, Manado: Linimasa Instagram mendadak ramai dengan kalimat-kalimat bernada sinis seperti “Welp, here I go pirating again”, “It’s over”, hingga “Absolute cinema devastating to cinema”. Ungkapan itu mencuat setelah laporan Deadline menyebut Netflix mengajukan penawaran akuisisi Warner Bros. senilai sekitar US$82,7 miliar.
Bukan semata nilai akuisisi yang memicu kegelisahan publik dan pelaku industri film. Rencana pemangkasan jendela penayangan bioskop menjadi hanya 17 hari sebelum film masuk ke layanan streaming justru menjadi sorotan utama, jauh di bawah standar industri pascapandemi yang mulai kembali ke kisaran 45 hari.
Bagi banyak penonton dan insan perfilman, kebijakan tersebut dinilai sebagai ancaman langsung terhadap pengalaman sinema. Film blockbuster, termasuk waralaba besar seperti DC Cinematic Universe, selama ini bergantung pada performa box office bertahap dari minggu ke minggu untuk menutup biaya produksi.
Sejumlah analisis industri yang dikutip media seperti The Hollywood Reporter dan Variety menunjukkan sebagian besar film baru mencapai titik impas setelah lebih dari tiga minggu penayangan. Jika jendela bioskop dipangkas menjadi 17 hari, tekanan terhadap pendapatan bioskop dinilai akan semakin besar.
Kondisi itu berpotensi mendorong studio menekan anggaran produksi demi mengurangi risiko. Dampaknya, skala film dikhawatirkan mengecil, risiko kreatif dipangkas, dan formula aman menjadi pilihan utama dalam produksi film.
Isu ini juga dibayangi potensi konflik bisnis dan hukum. Paramount disebut sebagai rival utama dengan kemungkinan hostile bid, sementara konsolidasi layanan streaming dinilai berisiko mempersempit pilihan konsumen, sebagaimana kerap disoroti Federal Trade Commission dan akademisi hukum persaingan usaha di Amerika Serikat.
Meski CEO Netflix Ted Sarandos menyebut langkah tersebut sebagai pro konsumen, pro inovasi, dan pro pertumbuhan, kritik terus bermunculan. Sejumlah pengamat menilai inovasi distribusi tidak seharusnya mengorbankan ekosistem kreatif, dengan pertanyaan besar apakah industri film masih memiliki ruang bernapas di tengah dominasi platform streaming.
(Sultan Jody Akbar)