Hobi Musik Jadi Awal Berdirinya Museum Musik Indonesia
- by Rizky Dharmawan
- Editor Syamsuddin
- 17 Jan 2026
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Museum Musik Indonesia berdiri berangkat dari hobi bermusik yang digeluti para pendirinya sejak lama. Hobi tersebut kemudian ditata agar memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Awalnya ini dari hobi saja, hobi musik bersama teman-teman,” ujarnya, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, kegemaran itu bermula dari mendengarkan radio hingga mengoleksi kaset dan piringan hitam. Koleksi tersebut mendorong munculnya gagasan menjaga warisan musik Indonesia.
Menurut Hengki, MMI dibentuk agar karya musik tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Kami ingin karya musik tetap punya bukti fisik,” katanya.
Ia menilai era digital membuat musik mudah diakses namun kehilangan jejak otentik. Museum hadir untuk menjaga rekaman fisik sebagai warisan sejarah.
Koleksi Museum Musik Indonesia didominasi kaset, CD, dan piringan hitam. Koleksi tersebut menjadi bukti autentik perjalanan musik lintas generasi.
Hengki mengakui masih ditemukan kaset dan CD bajakan dalam koleksi lama. Namun, piringan hitam dinilai lebih autentik karena sulit dipalsukan.
“Kalau di sini tidak bisa diedit, suaranya asli,” tegas Hengki.
Ia menyebut keaslian fisik menjadi kekuatan utama museum musik indonesia.
Melalui koleksi tersebut, Museum Musik Indonesia berupaya menjaga originalitas karya musisi. Museum juga menjadi ruang edukasi sejarah musik bagi publik.
Pendiri sekaligus Dewan Pengawas MMI, Hengki Herwanto, menyebut museum lahir dari kegemaran mengoleksi musik.
“Awalnya ini dari hobi saja, hobi musik bersama teman-teman,” ujarnya, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, kegemaran itu bermula dari mendengarkan radio hingga mengoleksi kaset dan piringan hitam. Koleksi tersebut mendorong munculnya gagasan menjaga warisan musik Indonesia.
Menurut Hengki, MMI dibentuk agar karya musik tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Kami ingin karya musik tetap punya bukti fisik,” katanya.
Ia menilai era digital membuat musik mudah diakses namun kehilangan jejak otentik. Museum hadir untuk menjaga rekaman fisik sebagai warisan sejarah.
Koleksi Museum Musik Indonesia didominasi kaset, CD, dan piringan hitam. Koleksi tersebut menjadi bukti autentik perjalanan musik lintas generasi.
Hengki mengakui masih ditemukan kaset dan CD bajakan dalam koleksi lama. Namun, piringan hitam dinilai lebih autentik karena sulit dipalsukan.
“Kalau di sini tidak bisa diedit, suaranya asli,” tegas Hengki.
Ia menyebut keaslian fisik menjadi kekuatan utama museum musik indonesia.
Melalui koleksi tersebut, Museum Musik Indonesia berupaya menjaga originalitas karya musisi. Museum juga menjadi ruang edukasi sejarah musik bagi publik.