Niki Lauda yang Bangkit dari Kecelakaan Mengerikan

KBRN, Jember: Kisah Niki Lauda, juara dunia Formula 1 asal Austria, tetap menjadi salah satu cerita paling heroik dan paling menegangkan dalam sejarah olahraga. Bbc.com menegaskan bahwa kecelakaan yang dialaminya pada 1 Agustus 1976 di Nürburgring bukan hanya hampir merenggut kariernya, tetapi juga nyawanya. Namun, dalam waktu enam minggu, ia kembali ke kokpit mobil balap dengan luka yang masih terbuka.

Pada musim 1976, Lauda adalah juara bertahan F1 dan menjadi kandidat kuat untuk mempertahankan gelarnya. Rivalitasnya dengan pembalap Inggris, James Hunt, berada di puncaknya, hubungan yang kemudian diangkat ke layar lebar dalam film Rush (2013). Namun, seperti dilaporkan bbc.com, kondisi balap pada era itu sangat berbahaya. Hingga 1976, tercatat 63 pembalap tewas dalam ajang Grand Prix.

Sirkuit Nürburgring yang memiliki panjang 22,8 km dan 177 tikungan dikenal sebagai trek paling mematikan di dunia. Jackie Stewart sampai menjulukinya The Green Hell. Pada hari balapan, kondisi trek semakin berbahaya karena sebagian kering dan sebagian basah. Lauda bahkan sempat mengajak para pembalap lain untuk mempertimbangkan boikot, namun mayoritas memilih tetap balapan.


Kecelakaan terjadi pada lap kedua. Mobil Ferrari Lauda tiba-tiba hilang kendali sebelum tikungan Bergwerk, menghantam dinding tanah dengan kecepatan sekitar 190 km/jam. Mobil itu kemudian terbakar hebat. Brett Lunger, Guy Edwards, Harald Ertl, dan Arturo Merzario berhenti dan berusaha menyelamatkannya. Merzario, yang mengenali sistem sabuk pengaman Ferrari, berhasil membuka harness dan menarik Lauda keluar dari kobaran api. Inilah momen yang menyelamatkan nyawa Lauda.Lauda mengalami luka bakar parah di wajah, kepala, dan pergelangan tangan. Helmnya terlepas saat benturan sehingga api langsung mengenai kulitnya. Namun bahaya terbesar justru datang dari asap beracun yang ia hirup, yang merusak paru-parunya. Ia sempat koma, bahkan menerima sakramen terakhir dari pendeta.Dalam wawancara BBC tahun 1977, Lauda mengingat pengalamannya melawan rasa kantuk yang dapat membawanya menuju kematian. “Anda ingin tidur, tetapi Anda tahu itu bukan tidur biasa. Anda harus memaksa otak bekerja agar tubuh terus melawan,” katanya.BBC melaporkan bahwa dokter tidak yakin ia akan selamat. Namun, Lauda menolak menyerah. Ia menjalani operasi besar, termasuk rekonstruksi kelopak mata dan kulit kepala dengan cangkok kulit.Yang paling mengejutkan dunia bukan hanya kesembuhannya, tetapi keputusannya kembali membalap hanya enam minggu kemudian di Grand Prix Italia di Monza. Lauda hadir dengan balutan perban, luka terbuka, dan kondisi mata yang masih terganggu karena saluran air mata yang rusak.Dalam otobiografinya To Hell and Back, Lauda mengaku penuh ketakutan saat kembali mengemudi, meski di depan publik ia menyembunyikan kerentanan itu. “Di Monza, aku kaku oleh rasa takut,” tulisnya.Di tengah rasa sakit luar biasa, ia finis di posisi keempat. Saat mengangkat helmnya setelah balapan, menurut kesaksian Jackie Stewart yang dikutip bbc.com, darah mengalir dari kepala Lauda karena perban menempel pada luka yang belum pulih sepenuhnya.Lauda akhirnya kalah dalam perebutan gelar dunia 1976 dari James Hunt hanya dengan selisih satu poin, setelah ia menarik diri dari balapan terakhir di Jepang akibat hujan lebat yang membuatnya tidak dapat melihat.Cedera tahun 1976 terus berdampak pada kesehatan Lauda sepanjang hidupnya, hingga ia menjalani transplantasi paru-paru pada 2018. Meski begitu, ia memenangkan tiga gelar dunia F1 (1975, 1977, 1984) dan meraih 25 kemenangan Grand Prix. BBC mencatat bahwa ketika Lauda wafat pada Mei 2019 di usia 70 tahun, banyak pihak menilai aksinya kembali balapan 40 hari setelah kecelakaan sebagai salah satu keberanian terbesar dalam sejarah olahraga.


Rekomendasi Berita