Tak BAB dan Tak Kentut, Waspada Sumbatan Usus
- by Jhoni Marbeta
- Editor Irsyad
- 18 Jan 2026
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Jakarta – Sebuah unggahan edukasi kesehatan mengenai keluhan tidak buang air besar (BAB) dan tidak kentut mendadak viral di media sosial. Hingga saat ini, unggahan tersebut tercatat telah dibaca hampir satu juta orang dan memicu diskusi luas di tengah masyarakat terkait bahaya gangguan pencernaan yang kerap dianggap sepele.
Unggahan tersebut mengisahkan seorang pasien yang datang ke rumah sakit dengan keluhan perut kembung dan begah, tidak BAB selama satu minggu, serta jarang kentut. Pada pemeriksaan fisik abdomen, dokter menemukan adanya distensi atau pembesaran perut disertai peningkatan bising usus disampaikan kepada rri Minggu 18 Januari 2026
Pemeriksaan lanjutan menggunakan foto rontgen abdomen tiga posisi menunjukkan gambaran sumbatan usus atau ileus obstruktif. Kondisi tersebut dinilai berbahaya sehingga pasien harus segera menjalani tindakan operasi guna mencegah komplikasi yang lebih fatal.
Pakar Spesialis Penyakit Dalam, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, yang juga mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menegaskan bahwa kombinasi keluhan tidak BAB dan tidak kentut bukanlah kondisi ringan.
“Jangan pernah meremehkan kondisi tidak BAB dan tidak kentut. Ini bukan sekadar sembelit biasa, tapi bisa menjadi tanda sumbatan usus yang memerlukan tindakan operasi segera,”ujar Prof. Ari.
Menurutnya, obstruksi usus yang terlambat ditangani dapat menimbulkan komplikasi serius seperti perforasi usus, infeksi berat (sepsis), hingga berujung pada kematian.
Viralnya unggahan edukasi ini juga bertepatan dengan kabar bahwa dai kondang Mamah Dedeh saat ini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Berdasarkan informasi yang beredar, kondisi kesehatan tersebut berkaitan dengan kebiasaan menahan buang air besar dalam jangka waktu lama, sehingga memerlukan penanganan medis serius.
Kasus ini semakin menyadarkan publik bahwa kebiasaan menahan BAB, yang sering dianggap sepele, dapat berdampak besar terhadap kesehatan. Dokter menjelaskan bahwa menahan BAB dapat menyebabkan feses mengeras, memperlambat pergerakan usus, meningkatkan tekanan dalam saluran cerna, serta memicu berbagai gangguan seperti konstipasi kronis, wasir, hingga sumbatan usus.
Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami tanda-tanda bahaya gangguan pencernaan, antara lain:
Tidak BAB lebih dari 3–5 hari disertai kembung berat
Tidak bisa kentut sama sekali
Perut terasa keras dan membesar
Nyeri perut hebat
Mual dan muntah
Nafsu makan menurun drastis
Selain itu, dokter juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sistem pencernaan dengan langkah sederhana, seperti tidak menahan BAB, mengonsumsi makanan tinggi serat, memperbanyak minum air putih, menjaga aktivitas fisik, serta segera berkonsultasi ke tenaga medis jika mengalami gangguan BAB berkepanjangan.
Unggahan edukasi yang viral ini dinilai memberikan dampak positif karena membuka mata masyarakat bahwa persoalan buang air besar bukanlah topik sepele atau tabu, melainkan indikator penting kesehatan tubuh secara keseluruhan.
“Masalah BAB sering diabaikan, padahal bisa menjadi tanda awal penyakit yang mengancam nyawa,” tutup Prof. Ari.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak menunda pemeriksaan medis demi mencegah kondisi gawat darurat yang sebenarnya dapat dihindari.