MUI Lima Puluh Kota Rancang Peta Jalan Dakwah
- by Jhoni Marbeta
- Editor Irsyad
- 14 Jan 2026
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Kab 50 Kota -Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lima Puluh Kota mulai meninggalkan pola dakwah konvensional yang cenderung sporadis. Lewat sebuah muzakarah (diskusi ilmiah) pada Rabu (14-1-2026) lembaga ini berupaya membedah realitas sosial umat melalui penyusunan peta dakwah. Langkah ini bukan sekadar urusan pemetaan geografis, melainkan ikhtiar memotret kondisi objektif masyarakat agar syiar Islam berjalan lebih presisi dan efektif.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi, Dr. Irwandi Nashir, menyebut peta dakwah sebagai kompas strategis untuk memahami mad’u atau objek dakwah secara utuh. Ia menawarkan dua paradigma: pendekatan hulu yang membedah realitas sosial untuk ditimbang dengan nilai Al-Quran, serta pendekatan hilir yang menerjemahkan pesan langit ke dalam aksi nyata. Strategi ini diharapkan mampu menjawab persoalan umat secara lebih saintifik dan menyentuh akar masalah.
Satu gagasan menarik yang mencuat adalah penggunaan Surah An-Nisa sebagai cetak biru pembangunan sosial di wilayah "Luak Limopuluah". Bagi Irwandi, surah tersebut bukan sekadar deretan ayat teologis, melainkan peta jalan sosiologis yang menekankan keadilan bagi kaum rentan dan penguatan institusi keluarga. "Ini adalah basis untuk stabilitas sosial masyarakat," ujar Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Payakumbuh tersebut di hadapan para peserta.
Kepala Kantor Kementerian Agama Lima Puluh Kota, Dr. Irwan, yang turut hadir dalam forum tersebut, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia mewanti-wanti agar upaya besar ini tidak terganjal oleh ego sektoral antarlembaga. Sinergi dakwah, menurut Irwan, juga harus berkelindan dengan penguatan ekonomi umat melalui optimalisasi zakat dan infak yang dikelola oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) setempat.
Diskusi yang dipimpin Ketua MUI Lima Puluh Kota, Dr. Asrat Chan, bersama sekretarisnya, Dafri Hawari, M.Pd.,akhirnya merumuskan empat agenda prioritas. Langkah awal dimulai dengan inventarisasi sumber daya dakwah guna memastikan distribusi penceramah tidak hanya menumpuk di pusat kota. Pemetaan ini krusial untuk melihat daerah mana saja yang selama ini luput dari sentuhan pembinaan agama secara rutin.
Selanjutnya, peta dakwah ini akan difokuskan pada mitigasi krisis moral, mulai dari pergaulan bebas, narkoba, hingga tren angka perceraian yang mengkhawatirkan. Tak abai dengan zaman, literasi digital juga masuk dalam radar prioritas. Para ulama menyadari bahwa strategi dakwah bagi kaum milenial harus beradaptasi dengan karakter ruang digital yang cepat dan cair agar nilai agama tidak kehilangan relevansinya.
Sebagai pamungkas, forum menyepakati penggalakan sadar wisata yang berkelindan dengan nilai syariah dan budaya lokal. Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga marwah daerah di tengah geliat industri pariwisata Sumatera Barat. Dengan peta yang jelas, MUI berharap dakwah tak lagi sekadar ceramah di podium, melainkan solusi nyata atas dinamika sosial yang kian kompleks.()