Seni Rupa sebagai Bahasa Personal Anak Muda Banyumas
- by Hadriyanti
- Editor Candranita Purbani
- 15 Jan 2026
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Seni rupa tidak hanya menjadi medium estetika, tetapi juga dapat berfungsi sebagai bahasa personal untuk menyampaikan perasaan dan keresahan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Hal tersebut disampaikan perupa muda Muhammad Khoiril Mushthofa dalam segmen Apresiasi Seni dan Sastra di Pro 2 RRI Purwokerto.
Khoiril, mahasiswa akhir Teknik Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang berasal dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan, menuturkan ketertarikannya pada seni rupa telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar melalui mata pelajaran seni budaya. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi sarana ekspresi diri yang lebih mendalam sejak masa sekolah menengah.
Menurutnya, pengalaman emosional manusia kerap bersifat praverbal atau sulit diungkapkan secara langsung. Karena itu, seni rupa menjadi alternatif medium untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan kritik sosial secara visual. Seni rupa, lanjutnya, bukan untuk menggantikan bahasa verbal, melainkan melengkapi cara manusia berkomunikasi.
Dalam proses berkarya, Khoiril sering mengangkat isu-isu keseharian dan lingkungan sekitar, termasuk persoalan dunia kampus. Salah satu karyanya terinspirasi dari isu kenaikan uang kuliah tunggal (UKT), yang divisualkan melalui simbol otak dan tangan sebagai representasi tekanan yang dialami mahasiswa.
Khoiril menilai bahwa penafsiran terhadap karya seni sepenuhnya menjadi ruang bagi penikmatnya. Keberagaman tafsir dipandang sebagai bagian dari dialog antara karya dan audiens, sekaligus memperkaya makna seni di ruang publik.
Selain melukis di kanvas, Khoiril juga pernah mengerjakan mural berukuran besar serta mengikuti berbagai pameran dan perlombaan seni. Ia juga mendorong generasi muda untuk berani berkarya, berproses, dan menjadikan seni sebagai ruang pertumbuhan diri. (Dinda)