Ferio Ivan Ungkap Strategi Agar Artikel Tidak Gugur di Awal

RRI.CO.ID, Malang - Dalam rangkaian Journal Club House of Lumind, mahasiswa tidak hanya diajak memahami teknik menulis artikel ilmiah, tetapi juga dikenalkan pada proses seleksi naskah yang berlangsung di balik meja editor jurnal. Pemahaman ini menjadi penting mengingat banyak artikel ditolak bukan pada tahap reviewer, melainkan sejak proses screening awal editor.

Dari perspektif Sosial dan Humaniora, pemateri Ferio Ivan membawakan sesi bertajuk “Strategi Lolos Screening Awal Editor: Menghindari Desk Rejection Sejak Tahap Pertama”. Sesi ini mengajak peserta melihat publikasi jurnal dari sudut pandang editor, bukan semata dari sisi penulis.

Ferio menjelaskan bahwa sebelum artikel dikirim ke reviewer, editor akan melakukan penilaian cepat terhadap sejumlah aspek mendasar, seperti kesesuaian dengan scope jurnal, kejelasan kontribusi ilmiah, serta kualitas penyajian naskah. Proses ini berlangsung singkat, namun sangat menentukan nasib sebuah artikel.

Ia mengungkapkan bahwa penyebab paling umum artikel langsung ditolak pada tahap awal adalah ketidaksesuaian dengan fokus jurnal yang dituju.

“Tidak sesuai dengan scope jurnal adalah penyebab yang paling sering terjadi, terutama pada penulis pemula yang mungkin menganggap semua jurnal itu sama, padahal setiap jurnal punya tema dan fokus masing-masing,” jelas Ferio, Senin (19/1/2026).

Selain kesesuaian topik, faktor teknis juga menjadi pertimbangan editor.

“Beberapa jurnal langsung reject di awal kalau formatnya tidak sesuai, meskipun ada juga yang mengembalikan naskah terlebih dahulu untuk diperbaiki sebelum lanjut ke tahap berikutnya,” ujarnya.

Ferio juga menyoroti pentingnya memperhatikan Call for Paper yang sedang dibuka jurnal.

“Ada jurnal yang membuka Call for Paper dengan tema khusus dan spesifik. Kalau artikel yang dikirim tidak sesuai dengan tema volume tersebut, maka sangat mungkin ditolak di tahap awal,” tambahnya.

Dari sisi substansi, artikel yang terlalu umum dan belum menunjukkan nilai kebaruan juga rentan mengalami desk rejection.

“Substansi yang masih terlalu umum dan belum punya novelty biasanya sulit lolos screening awal editor,” tegas Ferio.

Dalam sesi ini, Ferio turut membagikan gambaran bagian artikel yang paling cepat dinilai editor saat proses screening.

“Biasanya editor membaca abstrak terlebih dahulu, lalu pendahuluan, dan kesimpulan. Setelah itu, judul akan dilihat ulang apakah sudah benar-benar relate dengan ketiga bagian tersebut,” paparnya.


“Termasuk format penulisan, karena perbedaan format biasanya langsung terlihat.”

Ia menekankan bahwa struktur dan alur tulisan yang runtut menjadi krusial, khususnya dalam bidang Sosial dan Humaniora yang sangat bergantung pada kekuatan argumentasi dan framing isu.

Ferio mengingatkan bahwa banyak artikel sebenarnya memiliki topik yang menarik, tetapi gagal lolos karena penulis belum mampu memosisikan artikelnya secara jelas dalam diskursus keilmuan yang ada. Oleh karena itu, membaca pedoman penulisan jurnal dan menyesuaikan topik dengan scope menjadi langkah wajib sebelum mengirimkan naskah.

Menutup sesi, Ferio menyampaikan pesan kepada penulis pemula agar tidak mudah kapok ketika menghadapi penolakan.

“Penolakan itu sangat mungkin terjadi, bahkan pada penulis yang sudah sering publikasi. Ada banyak faktor yang bisa menjadi dasar penolakan,” ujarnya.


“Kalau ditolak, penulis bisa mencari jurnal lain yang masih relevan dan in line dengan bahasan artikel.”

Ia juga mendorong mahasiswa untuk melihat publikasi jurnal sebagai bagian dari strategi akademik jangka panjang.

“Cari motivasi yang lebih besar, misalnya untuk daftar beasiswa, Mawapres, dan peluang akademik lainnya. Publikasi jurnal punya nilai prestisius dan bisa membuka banyak kesempatan,” pungkasnya.

Melalui sesi ini, peserta Journal Club House of Lumind diajak memahami bahwa publikasi jurnal bukan sekadar soal menulis, tetapi juga soal membaca kebutuhan editor dan memposisikan artikel secara tepat. Dengan memahami proses screening awal, pengiriman artikel tidak lagi dilakukan secara coba-coba, melainkan berbasis strategi dan kesiapan akademik.

Rekomendasi Berita