Indonesia Peringkat Delapan Pasar Musik Terbesar Dunia 2025
- by Angaela Ivania Kana Pau
- Editor Alfred Sengge
- 18 Jan 2026
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Indonesia resmi menjadi pemain utama dalam industri musik global dengan menempati urutan ke-8 pasar terbesar dunia. Menurut analisis Luminate, total konsumsi musik digital di tanah air mencapai 178,9 miliar streaming pada 2025.
Data ini menegaskan bahwa perilaku masyarakat telah bergeser sepenuhnya ke platform digital, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan ketergantungan musik digital tertinggi di dunia. Lonjakan angka streaming ini merupakan dampak langsung dari masifnya penetrasi internet serta adopsi layanan musik digital di tanah air.
Mengacu pada data We Are Social dan Meltwater, jumlah netizen di Indonesia telah menembus 185,3 juta jiwa yang mencakup lebih dari dua pertiga populasi. Ekosistem ini tumbuh subur berkat dominasi platform global seperti Spotify dan YouTube Music, yang bersinergi dengan pemain lokal seperti Joox dan Langit Musik.
Faktor keterjangkauan harga serta strategi
bundling operator seluler menjadi katalisator utama yang mempermudah masyarakat dalam mengakses musik kapan saja. Secara demografis, ekosistem musik digital Indonesia digerakkan oleh kelompok usia produktif (18–34 tahun) yang memiliki keberagaman preferensi genre yang luar biasa.Dinamika ini dipercepat oleh peran media sosial sebagai "akselerator" popularitas; platform seperti TikTok memungkinkan sebuah karya mencapai eksposur masif secara instan melalui konten berbasis pengguna. Menurut laporan IFPI, posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar di Asia Tenggara bukan sekadar angka, melainkan peluang strategis.
Pertumbuhan ini tidak hanya memperluas jangkauan musisi domestik ke panggung internasional, tetapi juga memperkuat daya tarik industri musik nasional di mata investor global. Namun, di balik angka
streaming yang fantastis, kesejahteraan para musisi masih menyisakan tanda tanya besar.Sistem pembagian royalti di platform digital terus menjadi perdebatan hangat karena nilai pendapatan per
stream yang tergolong kecil. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa musisi independen seringkali belum bisa mengandalkan streaming sebagai sumber penghasilan utama.Alhasil, konser, penjualan
merchandise, dan kolaborasi merek menjadi "napas" utama untuk bertahan hidup. Ini adalah rapor merah bagi industri kita; pertumbuhan ekonomi musik Indonesia harus segera dievaluasi agar manfaatnya benar-benar terasa secara adil bagi setiap kreator di dalamnya. (AK)