F1 GP Qatar: Verstappen Podium, Perebutan WDC Memanas
- by Kasembadan Putro Yuda Sihwidianto
- Editor H. Atto Raidi
- 2 Des 2025
- Kendari
KBRN, Kendari: F1 Qatar Airways Qatar Grand Prix 2025 yang digelar di Sirkuit Internasional Lusail, Senin malam (1/12/2025) pukul 00.00 WITA, menjadi salah satu balapan paling mencekam sepanjang musim. Di bawah sorotan lampu LED yang menyinari lintasan sepanjang 5,419 km itu, seri kedua terakhir musim 2025 menyuguhkan
drama strategi, pertarungan mental, dan konsistensi teknis yang luar biasa. Hasilnya? Max Verstappen (Red Bull Racing) sekali lagi membuktikan kelasnya dengan meraih kemenangan dominan di posisi pertama (P1). Kemenangan ini krusial berkat keputusan strategis tim yang brilian, dan kini memperketat pertarungan sengit memperebutkan gelar juara dunia melawan rival utama dari McLaren.
Di belakang Max Verstappen, Oscar Piastri (McLaren) berhasil mempertahankan posisi kedua (P2) dengan performa yang sangat solid. Sementara itu, Carlos Sainz Jr. (Williams) menunjukkan performa defensif yang luar biasa untuk mengamankan podium ketiga (P3), sekaligus mencatatkan podium keduanya di musim ini setelah Grand Prix Baku.START BERSIH, VERSTAPPEN LANGSUNG “MENYERANG”
Start balapan adalah momen ledakan drama yang menentukan alur perebutan gelar. Ketika lampu merah padam, Sirkuit Lusail sontak menjadi arena perang kecepatan antara tiga pembalap terdepan: Oscar Piastri di posisi Pole (P1), Lando Norris di posisi 2 (P2), dan Max Verstappen di posisi (P3).
Oscar Piastri yang start dari pole position berhasil mempertahankan posisi terdepan dengan start yang sangat rapi. Namun, Max Verstappen yang start dari posisi 3 (P3) langsung menunjukkan intensitas tinggi. Di lintasan lurus utama menuju Tikungan 1, Max Verstappen memanfaatkan slipstream dan tenaga RB21 untuk menyalip Lando Norris di posisi 2 (P2) dengan manuver luar biasa di sisi luar. Dalam hitungan detik, juara dunia empat kali itu sudah berada di posisi kedua (P2) dan langsung menekan Oscar Piastri dengan jarak di bawah 0,8 detik. Momentum ini menjadi fondasi dominasi Verstappen sepanjang 57 lap. Dalam sekejap mata, susunan terdepan berubah menjadi Oscar Piastri di posisi (P1), Max Verstappen di posisi 2 (P2), dan Lando Norris terlempar ke posisi 3 (P3).INSIDEN LAP 7 : HULKENBERG–GASLY PICU SAFETY CAR
Drama besar terjadi pada Lap 7 ketika Nico Hülkenberg (Kick Sauber) dan Pierre Gasly (Alpine) bersenggolan keras di Tikungan 1. Kontak itu membuat roda kiri depan Nico Hülkenberg terlepas sepenuhnya, melintir di tengah lintasan, sementara Piere Gasly mengalami kerusakan parah pada floor dan bargeboard mobil A525-nya. Setelah sempat Virtual Safety Car, FIA akhirnya mendeploy Virtual Safety Car penuh pada Lap 8 hingga Lap 10. Momen ini menjadi titik balik strategi seluruh tim.
Kronologinya adalah ketika Nico Hulkenberg dan Pierre Gasly bersisian, ban mereka saling bersenggolan dengan keras, yang pada akhirnya memicu bencana.
Ban belakang bagian kanan Nico Hulkenberg langsung copot dan mengehempasnya langsung keluar dari lintasan, juga membuat mobilnya kehilangan kendali total dan terpaksa DNF (Did Not Finish).
Sementara itu, mobil Pierre Gasly mengalami pecah ban parah dan kerusakan besar pada floor aerodinamisnya, memaksanya tertatih-tatih kembali ke pit. Tabrakan mengerikan ini menyebarkan serpihan karbon di lintasan, mewajibkan kru balap bekerja cepat membersihkan sirkuit.STRATEGI PIT STOP RED BULL : BERESIKO NAMUN SANGAT EFEKTIF BAGI VERSTAPPEN
Keluarnya Virtual Safety Car, yang berlangsung hingga Lap 10, menjadi panggung taruhan gila antara Red Bull dan McLaren. Tepat di Lap 8, strategi pit stop memanas. Max Verstappen adalah pembalap pertama sekaligus pembuka yang masuk ke dalam pit stop untuk menjalankan strategi dari tim Red Bull, mengganti bannya ke kompon Medium. Keputusan ini diambil karena Sirkuit Lusail mewajibkan pembalap minimal melakukan dua kali pit stop. Dimana ketika Max Verstappen masuk ke dalam pit stop, driver lainnya juga masuk ke dalam pi stop, termasuk Carlos Sainz Jr. yang masuk dalam pit stop di lap ke 8.
Keputusan agresif ini menempatkan Max Verstappen kembali ke trek di posisi posisi 3 (P3), dan keputusan ini juga akhirnya diikuti oleh driver lain termasuk Carlos Sainz Jr. (Williams) juga ikut masuk pit dan keluar tepat di belakang Max Verstappen.
Sebaliknya, Duo McLaren justru memilih untuk tetap di dalam lintasan yang memilih tetap stay out dan tidak masuk pit stop di bawah Virtual Safety Car, strategi ini bertujuan agar Duo McLaren mempertaruhkan posisinya dengan gap yang jauh dari Max Verstappen.
Dimana Oscar Piastri dan Lando Norris bertaruh mempertahankan track position, namun disatu sisi strategi “undercut” dari Red Bull ini justru terbukti jitu.DRAMA TENGAH BALAPAN DAN STRATEGI PERTARUNGAN PIT STOP
Memasuki lap tengah, McLaren akhirnya terpaksa melakukan pit stop pertama mereka. Pada Lap 25, Oscar Piastri menjadi driver McLaren pertama yang masuk pit stop. Hal ini membuat Lando Norris naik ke posisi 1 (P1), disusul Max Verstappen di (P2), dan Carlos Sainz Jr. di posisi 3 (P3).
Kemudian di Lap 26, Lando Norris akhirnya masuk ke pit stop, dimana momen ini dimanfaatkan penuh oleh Max Verstappen, yang langsung memimpin balapan di posisi 1 (P1), diikuti Carlos Sainz Jr. di posisi 2 (P2), dan rookie Kimi Antonelli (Mercedes) di posisi 3 (P3).
Tentunya ini menjadi peluang emas bagi Max Verstappen langsung “push” dirinya untuk membuka lebar gap agar menjauh dari Duo McLaren. Dalam 10 lap saja, gap-nya sudah mencapai 18 detik dari Carlos Sainz Jr., 19 detik dari Oscar Piastri, dan 24 detik dari Lando Norris. Konsistensi lap time Verstappen di kisaran 1:27 detik rendah sungguh menakutkan.
Tak lama setelah itu, di Lap 30, Oscar Piastri berhasil memanfaatkan kecepatan di lintasan lurus mendekati tikungan 1 untuk overtake Kimi Antonelli, merebut posisi posisi 3 (P3). PIT STOP KEDUA: MCLAREN KEMBALI KEHILANGAN MOMENTUM
Di Lap 33, Max Verstappen kembali masuk ke pit stop kedua untuk menjalankan strategi pit stop bersama timnnya, yaitu mengganti ban ke kompon Hard. Momen ini kembali membawa Duo McLaren ke posisi teratas, Oscar Piastri di posisi 1 (P1) dan Lando Norris di posisi 2(P2).
Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena FIA telah mengeluarkan aturan wajib yaitu setiap drivers wajib melakukan dua pit stop. Sehingga, Max Verstappen melakukannya lebih dulu untuk masuk ke pit stop, dimana ini merupakan pit stop keduanya yang dilakukan pada lap 33 untuk mengganti bannya dari Medium ke Hard strategi ini sangat ampuh hingga akhir balapan dengan menggunakan ban Hard.
Setelah Max Verstappen masuk pit, Carlos Sainz Jr. pun juga mengikuti langkah Max Verstappen, yaitu masuk ke pit stop untuk melakukan pit keduanya. Yang sekali lagi Duo McLaren memimpin sementara, namun hanya bertahan sebentar, hal ini dikarenakan Duo McLaren juga harus menunaikan kewajibannya yaitu standar minimal dua kali pit stop di Lusail.
Jadi, pada Lap ke 43, Oscar Piastri masuk pit stop, mengganti ke bannya dari Medium ke Hard. Di sinilah, Max Verstappen merebut posisi Oscar Piastri dengan kembali di posisi 2 (P2) dan
Kemudian, di Lap 45, Lando Norris masuk pit stop, yang dimana momen ini sangatlah krusial, karena Oscar Piastri merebut kembali posisi 2 (P2) dari Lando Norris, kemudian disusul Carlos Sainz Jr. yang juga merebut posisi Lando Norris dan naik dari posisi 4 (P4) ke posisi 3 (P3), dan terakhir Lando Norris terpaksa turun ke posisi 5 (P5) karena Kimi Antonelli juga langsung mengamankan posisi 4 (P4).
Di momen inilah, Max Verstappen mengambil momen emasnya lagi, dimana dia berhasil mengembalikan dan mempertahankan posisinya di posisi 1 (P1) dan memimpin balapan hingga finish. Pada akhirnya, tim Red Bull telah membolehkan Max Verstappen untuk melakukan "free to push", hal ini bertujuan untuk menjauhkan atau membuka lebar gapnya dari Oscar Piastri.PERFORMA MENGERIKAN PIASTRI : PENGEJARAN DI AMBANG BATAS
Setelah keluar dari pit stop kedua di Lap 43, Oscar Piastri menunjukkan performa yang benar-benar mengerikan dan penuh ambisi. Dengan ban Hard yang masih segar, Piastri mengaktifkan mode full attack, mengubah McLaren-nya menjadi rudal pemburu yang mengincar posisi teratas.
Saat Max Verstappen kembali memimpin, jarak waktu antara ia dan Oscar Piastri sangat lebar, hampir 20 detik.
Namun, Oscar Piastri menolak untuk menyerah. Lap demi lap, ia mencetak waktu yang konsisten lebih cepat, mendorong mobilnya hingga batas maksimum Sirkuit Lusail, Qatar.
Jarak waktu itu terus terpangkas, perlahan namun pasti. Dari 20 detik, Oscar Piastri berhasil memangkasnya hingga menyentuh angka 8 detik. Ini adalah bukti kecepatan brutal Oscar Piastri yang siap merebut kemenangan. Sayangnya, meskipun Oscar Piastri menunjukkan pace yang luar biasa, Max Verstappen sudah memiliki cukup margin sehingga mengharuskan Oscar Piastri masuk ke garis finish di posisi 2 (P2).DUEL 11 LAP NORRIS VS ANTONELLI: “ROOKIE” MERCEDES TAHAN GEMPURAN
Fokus kemudian beralih pada duel sengit antara Kimi Antonelli di posisi 4 (P4) dan Lando Norris di posisi 5 (P5). Kimi Antonelli menunjukkan kemampuan luar biasa sebagai rookie dengan pertahanan mentalitas baja, berhasil menahan gempuran Lando Norris selama 11 Lap (dari Lap 45 hingga Lap 56).
Setelah pit stop kedua, Lando Norris terjebak di belakang Kimi Antonelli selama 11 lap penuh. Rookie Mercedes itu menunjukkan pertahanan luar biasa, blocking line dengan presisi, late braking, dan manajemen ban yang sangat dewasa. Lando Norris berkali-kali mencoba menyerang di Tikungan 1 hingga Tikungan 10, namun Kimi Antonelli selalu menutup pintu dengan sempurna.
Baru pada Lap 56, ketika Kimi Antonelli mengalami sedikit oversteer keluar Tikungan 11 akibat degradasi ban, Lando Norris akhirnya berhasil berhasil overtake Kimi Antonelli dari dalam di tikungan 11 utama. Akhirnya, Lando Norris berhasil naik di posisi 4 (P4), sementara Kimi Antonelli harus turun di posisi 5 (P5).1 LAP AKHIR: NORRIS GEMPUR SAINZ, TAPI “SMOOTH OPERATOR” TIDAK TERKALAHKAN
Setelah melewati Kimi Antonelli, Lando Norris langsung memburu Carlos Sainz Jr. yang berada di posisi 3 (P3) dengan gap 4,2 detik. Dalam lap terakhir, Lando Norris memangkas jarak hingga di bawah 1 detik. Serangan demi serangan dilancarkan, terutama di Tikungan 1 dengan late braking ekstrem dan Tikungan 10 dengan manuver switchback. Namun Carlos Sainz Jr. — yang dijuluki “Smooth Operator” — tampil sempurna tanpa cela.
Pertahanan super rapi, traction keluar tikungan lebih baik berkat setup Williams FW47 yang fokus downforce tinggi, ditambah mental baja khas Carlos Sainz Jr, membuat Lando Norris tak pernah mendapat celah bersih. Dan pada akhirnya, Carlos Sainz Jr finish posisi 3 (P3), dan Lando Norris di posisi 4 (P4) — selisih hanya 0,687 detik di garis finish.
Carlos Sainz Jr. benar-benar menunjukkan skillnya berupa pertahanan yang heroik dan mentalitas baja yang krusial. Di Lap 56 dan Lap 57 (Lap terakhir), ia menutup semua celah, menempatkan mobilnya di posisi yang sempurna di setiap tikungan, dan berhasil menahan kecepatan superior McLaren Lando Norris.
Carlos Sainz Jr. sukses mempertahankan posisi ketiga (P3) dari tekanan Lando Norris hingga melintasi garis finish
Carlos Sainz Jr. sukses mengamankan podium di posisi 3 (P3), sekaligus podium keduanya selama musim 2025 ini, yang ia dapatkan setelah Grand Prix di Baku, Azerbaijan. Dan kegagalan Lando Norris merebut posisi 3 (P3) tentunya sangat merugikan poinnya dalam klasemen karena dia hanya mendapatkan 12 poin saja.KEMENANGAN DRAMATIS VERSTAPPEN : PERTANDA KEMBALINYA SANG JUARA DUNIA
Kunci kemenangan Max Verstappen terletak pada dua keputusan brilian Red Bull. Pertama, keberanian untuk menjadi yang pertama masuk pit stop saat Virtual Safety Car keluar di Lap 7, memberinya keunggulan ban segar yang tak dimiliki McLaren di awal balapan.
Keputusan kedua terjadi di Lap 43. Setelah McLaren dipaksa masuk pit stop kedua, Max Verstappen kembali mengambil alih pimpinan. Dengan ban Hard baru dan lintasan yang bersih, sang juara dunia diberikan lampu hijau oleh timnya: "Free to Push."
Momen ini adalah pemisah antara kemenangan dan kegagalan. Verstappen menekan mobilnya secara ekstrem, mencetak serangkaian putaran tercepat yang luar biasa. Meskipun Oscar Piastri melakukan pengejaran gila-gilaan, memangkas jarak 20 detik menjadi 8 detik, tekanan yang diberikan Max Verstappen di momen "free to push" ini sudah terlalu jauh. Ia membangun jarak tak terkejar yang membuatnya imun dari ancaman Oscar Piastri.
Strategi undercut yang dipercepat di Lap 8, dikombinasikan dengan eksekusi lap yang sempurna di Lap 43, membuktikan bahwa Max Verstappen adalah master strategi dan kecepatan.
Ia melintasi garis finish sebagai pemenang mutlak dengan memimpin balapan dan mempertahankan posisinya hingga finish di posisi 1 (P1), sekaligus mengunci kemenangan ke-7 musim ini sebagai Podium 1 (P1), juga sebagai pertanda kembalinya label Sang Juara Dunia di Sirkuit Lusail, Qatar.KLASIFIKASI AKHIR DAN PERTARUNGAN MAKIN MEMANAS
Max Verstappen (Red Bull Racing) kembali memperlihatkan mengapa ia adalah juara dunia bertahan. Pembalap Belanda itu memenangkan Qatar Airways Qatar Grand Prix 2025 dengan dominasi mutlak sejak lap-lap awal hingga bendera kotak-kotak dikibarkan di posisi 1 (P1). Oscar Piastri berhasil mempertahankan posisi 2 untuk McLaren dengan penampilan yang sangat konsisten sepanjang malam. Sementara itu, Carlos Sainz Jr. yang membela Williams tampil heroik dan merebut posisi 3 (P3) setelah bertahan dari serangan tanpa ampun Lando Norris selama 2 lap terakhir. Dan, Lando Norris sendiri harus puas finish di posisi 4 (P4), diikuti rookie Mercedes Kimi Antonelli yang kembali menunjukkan kelasnya di posisi 5 (P5).
Max Verstappen melintasi garis finish sendirian, mengklaim kemenangan dominan ke-7 musim ini di posisi 1 (P1) dan meraih tambahan 25 poin. Di belakangnya, Oscar Piastri menyusul untuk mengamankan posisi 2 (P2) dengan perolehan 18 poin. Dan di puncak drama lap terakhir, Carlos Sainz Jr. berhasil mengakhiri perjuangannya di posisi podium 3 (P3), meraih 15 poin. Sementara itu, Lando Norris yang finish posisi 4 (P4) menambahkan 12 poin dalam klasemennya.
Hasil balapan Lusail ini telah mengunci penentuan gelar juara dunia dan menyebabkan pergeseran signifikan di papan atas klasemen. Lando Norris masih memuncaki klasemen di posisi 1 dengan total 408 poin. Namun, di belakangnya, Max Verstappen melompat naik ke posisi 2 dengan total 396 poin, hanya selisih 12 poin dari Lando Norris. Kemenangan krusial ini memungkinkan Max Verstappen menempatkan dirinya tepat di bawah rival utamanya. Sementara itu, Oscar Piastri harus merelakan posisi keduanya dan turun ke klasemen posisi 3, dengan total 392 poin, selisih tipis 4 poin dari Max Verstappen.MENUJU ABU DHABI : MALAM PENENTUAN MUSIM 2025, TIGA PEMBALAP DIUJUNG TANDUK, GELAR WDC DI DEPAN MATA

Dengan hanya tersisa satu balapan — Yas Marina Grand Prix pada 8 Desember 2025 — perebutan gelar dunia F1 2025 kini benar-benar berada di ujung tanduk. Lando Norris masih memimpin dengan 408 poin.
Namun Max Verstappen kini hanya terpaut 12 poin setelah kemenangan dominan di Lusail, Qatar. Max Verstappen yang sempat tertinggal jauh kini kembali dalam perburuan gelar kelimanya (5th World Drivers’ Championship). McLaren berada dalam tekanan besar untuk mempertahankan keunggulan tipis mereka.
Jika Max Verstappen menang di Abu Dhabi (25 poin) dan Lando Norris finish pada posisi 3 (P3) atau lebih buruk (15 poin atau kurang), maka Max Verstappen akan merebut gelar dunia kelima secara beruntun. Di sisi lain, Oscar Piastri yang hanya terpaut 16 poin dari Lando Norris juga masih punya peluang matematis — meski sangat tipis — jika ia menang dan Lando Norris bermasalah. Segala tekanan, ambisi, dan sejarah kini bertumpu pada 58 lap terakhir musim 2025 di bawah lampu Yas Marina.
Akankah Max Verstappen mempertahankan gelar Juara Dunia dan mendapatkan gelar Juara Dunia kelimanya ? Ataukah Lando Norris akhirnya memutus kutukan “hampir juara” dan membawa McLaren kembali ke puncak setelah 27 tahun ? Atau, dalam skenario paling liar, akankah Oscar Piastri mencuri gelar di balapan terakhir ?
Jawabannya akan terungkap hanya dalam hitungan hari. Musim F1 2025 belum selesai — ia baru saja memasuki babak paling dramatis dalam satu dekade terakhir, dimana semua mata akan tertuju pada Sirkuit Yas Marina, yang dipastikan akan menjadi babak penutup paling intens dalam sejarah F1—sebuah pertarungan hidup-mati untuk mahkota juara dunia. Kata Kunci / Tags
F1
F1 2025
F1 Race 2025
F1 Race
F1 Qatar
F1 Qatar 2025
F1 GP Qatar
F1 GP Qatar 2025
F1 Lusail Circuit
F1 Lusail Circuit 2025
F1 Race Lusail
F1 Race Lusail Circuit 2025
F1 Race Qatar
F1 Race Qatar 2025
Balapan F1
Balapan F1 2025
Balapan F1 Qatar 2025
Balapan F1 Qatar
Balapan F1 Sirkuit Lusail
Balapan F1 Sirkuit Lusail 2025
F1 Red Bull
F1 Red Bull Racing
F1 Red Bull Racing Team
F1 McLaren
F1 McLaren Racing
F1 McLaren Racing Team
F1 Williams
F1 Williams Racing
F1 Williams Racing Team
Red Bull
Red Bull Racing Team
Red Bull Racing
McLaren
McLaren Racing
McLaren Racing Team
Williams
Williams Racing
Williams Racing Team
Max Verstappen
Max
Verstappen
Lando Norris
Lando
Norris
Oscar Piastri
oscar
Piastri
Carlos Sainz Jr
Carlos
Sainz
WDC
juara dunia
gelar juara dunia
World Drivers Championship
Gelar Juara Dunia Kelima
Gelar
Motosport
Otosport
Sport
olahraga
balapan
Olahraga Balapan
Qatar
Qatar 2025
Lusail
Lusail 2025
2025