Pura Pakualaman, Simbol Penghormatan dan Keunikan Arsitektur Jawa
- by Tiara Adinda
- Editor Aris Basuki
- 17 Jan 2026
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Berdiri kokoh sebagai simbol sejarah dan kekuasaan di jantung Kota Pelajar, Pura Pakualaman bukan sekadar istana. Bangunan peninggalan Kadipaten Pakualaman ini menyimpan filosofi mendalam, mulai dari tata ruang yang unik hingga detail arsitektur yang memadukan budaya Jawa dan Eropa. Aryadi, salah seorang anggota di Group Sinau Cagar Budaya (Sigarda) Indonesia, mengatakan, Pura Pakualaman memiliki kekhasan yang membedakannya dengan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Jika Kraton Yogyakarta menghadap ke utara, Pura Pakualaman justru menghadap ke selatan. "Hal ini mencerminkan sikap penghormatan dan pengakuan Pura Pakualaman kepada Kraton Kasultanan Yogyakarta yang secara usia lebih tua," tulis Aryadi dalam catatan informasinya (13/10).
Harmoni Arsitektur Jawa dan Sentuhan Eropa
Memasuki kompleks istana, pengunjung akan disambut oleh Regol Danawara. Pintu gerbang utama di sisi selatan ini menarik perhatian dengan inskripsi tahun "1884" dan sengkalan berhuruf Jawa "wiwara kusuma winayang reka".
Di dalam kompleks, berdiri Bangsal Sewatama, sebuah pendapa megah berlantai marmer yang menjadi saksi bisu prosesi penobatan (jumenengan) para penguasa Pakualaman. Uniknya, meski kental dengan nuansa tradisional, pengaruh gaya Indis atau Eropa sangat terasa pada beberapa unit bangunan lainnya.
Sebut saja Gedhong Purwaretna, yang dibangun pada masa Paku Alam VII. Fasadnya dihiasi ukiran kayu geometris (krawangan) dengan panel kaca berwarna hijau dan kuning yang memberikan kesan mewah sekaligus estetik. Begitu pula dengan Gedhong Maerakaca, bangunan dua lantai hasil sentuhan arsitek Van der Beek yang difungsikan sebagai ruang bersantai keluarga istana.
Tata Ruang yang "Tegas" dan Fungsional
Pura Pakualaman dirancang dengan pola keruangan yang sangat tertata. Di pusatnya, terdapat Dalem Ageng Prabasuyasa sebagai bangunan inti yang menyimpan berbagai pusaka kedipaten. Area ini diapit oleh Gandhok Kulon dan Gandhok Wetan yang masing-masing berfungsi sebagai kediaman putra menantu dan permaisuri.
Satu hal yang unik dan hanya ditemukan di Pura Pakualaman adalah keberadaan Bangunan Keliling atau Gandok Keliling. Deretan bangunan sepanjang ratusan meter ini tidak hanya berfungsi sebagai pembatas area istana dengan dunia luar, tetapi juga menjadi tempat tinggal bagi para abdi dalem.
"Tata letak bangunan keliling ini merupakan keunikan perancangan yang khas dan langka," tambah Aryadi.
Sebagai pelengkap tata ruang kota khas Jawa, di luar tembok istana terdapat Masjid Besar Pakualaman dan Lapangan Sewandanan. Lapangan ini menyerupai alun-alun, namun memiliki ciri khas tanpa pohon beringin kurung di tengahnya.
Hingga saat ini, Pura Pakualaman tetap berdiri anggun, menjaga marwah tradisi di tengah modernitas Yogyakarta, sekaligus menjadi destinasi wajib bagi mereka yang ingin menyelami sejarah panjang kadipaten di tanah Mataram.