Kecanduan Video Pendek dan Bahaya bagi Otak
- by Mia Turohmah
- Editor LN. Antonia Sinaga
- 15 Jan 2026
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Kebiasaan menonton video pendek di media sosial kini menjadi bagian dari rutinitas harian banyak orang Indonesia.
Melansir laman Kemkomdigi, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 4,9 hari per minggu untuk mengonsumsi konten video pendek, menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia setelah Nigeria, Filipina, Kenya, dan Thailand. Angka ini menunjukkan betapa masifnya peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, tidak semua orang menyadari dampak buruk dari konsumsi video pendek secara berlebihan. Berbagai riset menunjukkan bahwa paparan konten singkat yang terus-menerus dapat memengaruhi kemampuan otak dalam jangka panjang. Pola ini membuat otak terbiasa dengan rangsangan cepat dan instan, sehingga sulit beradaptasi dengan aktivitas yang membutuhkan fokus mendalam.
Beberapa dampak yang kerap muncul antara lain penurunan fungsi kognitif, meningkatnya risiko kecanduan, hingga fenomena yang populer disebut brain rot atau “pembusukan otak”. Selain itu, kebiasaan ini juga dikaitkan dengan kesulitan mengambil keputusan, menurunnya daya konsentrasi, serta munculnya gangguan kecemasan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas dan kesehatan mental secara keseluruhan.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, kini muncul tren yang dikenal dengan istilah intentionally bored. Tren ini mendorong seseorang untuk sengaja tidak melakukan apa-apa dalam waktu tertentu, termasuk melepaskan diri dari distraksi digital seperti media sosial. Rasa bosan yang muncul justru dimanfaatkan untuk memberi ruang bagi otak agar beristirahat dan memulihkan diri dari banjir informasi.
Mengisi waktu tanpa layar dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas sederhana namun bermakna. Membaca buku, duduk santai sambil mengamati lingkungan sekitar, melukis, atau berjalan kaki tanpa ditemani musik dan podcast menjadi pilihan yang menyehatkan. Dengan membiasakan diri menghadapi kebosanan secara sadar, kita dapat melatih fokus, menenangkan pikiran, dan mengantisipasi dampak buruk dari konsumsi konten digital yang berlebihan.