RRI.CO.ID, Serang – Proses produksi yang dilakukan secara manual menjadi kekuatan utama UMKM minuman Bestea dalam menjaga konsistensi rasa teh racikan Jawa. Setiap tahapan produksi dijalankan dengan standar ketat untuk memastikan kualitas rasa, aroma, dan warna tetap terjaga.
Owner Bestea, Naufal Harits mengatakan, peracikan teh dilakukan dengan ketelitian tinggi mulai dari pemilihan daun teh, penentuan takaran air, hingga waktu pengendapan. Menurutnya, kesalahan kecil dalam proses produksi dapat berdampak besar pada kualitas akhir minuman.
“Kalau takaran air berubah sedikit saja atau waktu endapnya kurang, rasanya pasti beda. Itu sebabnya kami sangat menjaga proses ini,” katanya saat Talkshow Muda Kreatif di Pro 2 RRI Banten, Sabtu 17 Januari 2026.
Ia menjelaskan, teh yang telah diracik harus diendapkan selama semalaman agar sari daun teh keluar secara maksimal. Proses ini membuat warna teh menjadi lebih pekat dan aromanya lebih kuat dibandingkan teh yang langsung diseduh dan dijual.“Proses endap ini memang memakan waktu, tapi dari sinilah karakter rasa Bestea terbentuk,” ucapnya.
Owner Bestea lainnya, Yuska Desi menambahkan, proses manual tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam produksi harian. Namun, ia menilai proses tersebut penting untuk menjaga ciri khas produk.“Kalau mau cepat, sebenarnya bisa. Tapi rasa dan kualitasnya tidak akan sama. Kami memilih menjaga kualitas meskipun prosesnya lebih panjang,” ujarnya.
Selain teh, Bestea juga menggunakan bahan baku alami untuk varian minuman lainnya, seperti buah segar dan cokelat. Pemilihan bahan dilakukan secara rutin untuk memastikan kesegaran dan keamanan produk.
Melalui proses produksi yang terjaga, Bestea berharap dapat terus mempertahankan kualitas produk sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap minuman lokal berbasis racikan tradisional. “Kami ingin setiap gelas yang diminum pelanggan punya rasa yang konsisten dan aman,” katanya.